Pendidikan adalah salah satu kunci utama menuju perubahan nasib. Bagi
ribuan anak dari keluarga prasejahtera di Indonesia, kesempatan untuk mengenyam
Pendidikan sering terbentur bukan hanya oleh keterbatasan ekonomi, tetapi juga
kondisi keluarga atau lokasi yang jauh dari akses pendidikan. Program Sekolah
Rakyat hadir sebagai jembatan harapan yang menghadirkan akses belajar yang layak
dan harapan baru bagi anak-bangsa.
Salah satu contoh yang menggugah yaitu kisah Arif Maulana (Lana), seorang
anak yatim yang sempat putus sekolah selama 1,5 tahun ketika ibunya sakit dan
kondisi keluarga tak memungkinkan. Lana merupakan siswa Sekolah Rakyat
Menengah Atas (SRMA) 19 Bantul. Setelah lulus SMP, Lana sempat mendaftar SMK
tetapi keluar pada semester 5. Lana memiliki keinginan kuat untuk kembali
mengenyam pendidikan dan Sekolah Rakyat menghadirkan kesempatan itu. Meski
awalnya kesulitan beradaptasi dengan temannya yang rata-rata lebih muda, namun
seiring berjalannya waktu, ia bisa menyesuaikan diri. Melalui Sekolah Rakyat, Lana
mendapatkan kesempatan Kembali untuk belajar dengan fasilitas yang disediakan
pemerintah, serta dukungan moral dari guru dan teman-teman barunya. Di Sekolah
Rakyat, Lana menyukai mata pelajaran Bahasa Indonesia karena cita-citanya ingin
menjadi penulis. Ia mengaku senang dengan guru-guru di Sekolah Rakyat yang telah
mengajar dengan sabar dan berharap bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih
tinggi.
Di Jawa Tengah, sebuah sekolah rakyat yang baru diresmikan oleh Ahmad
Luthfi membuka harapan untuk siswi seperti Paris Erin Najma. Paris mengaku lega
karena beban ayahnya yang harus mengurus tiga anak kini sedikit berkurang karena
ia dapat belajar tanpa memikirkan biaya sekolah lagi. Gadis itu tinggal fokus belajar di
SRMA 17 Surakarta, sesuai pesan ayahnya. Selain itu, juga terus berusaha menjadi
siswa yang baik dan penurut selama mengikuti kegiatan belajar. Siswi lainnya, Erzya
Putri Setiani menyampaikan, ekonomi keluarganya yang tak tentu membuatnya
sangat beruntung bisa menempuh pendidikan di SRMA 17 Surakarta. Ayahnya
bekerja sebagai pedagang, dan ibunya sebatas mengurus rumah tangga. Erza,
sapaannya, merasa berutung karena bisa mendapatkan pendidikan berkualitas dan
tanpa biaya. Ditambah lagi, fasilitasnya di sekolah juga terjamin. Dia pun kini tambah
semangat dalam belajar di SRMA 17 Surakarta, karena itu merupakan pesan orang
tuanya.
Di provinsi Papua pun, testimoni para siswa dan orang tua menunjukkan bahwa
Sekolah Rakyat semakin diterima sebagai jalan nyata memperkuat fondasi
Pendidikan dan kesejahteraan. Sandra Malo, siswi dari Kampung Skouw Mabo,
mengaku senang mendapat kesempatan menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.
Ia juga mengaku bahwa dengan adanya Sekolah Rakyat, ia belajar untuk menjadi
pribadi yang lebih disiplin. Dampak positif juga dirasakan oleh Debora, salah satu
orang tua siswa Sekolah Rakyat di Jayapura. Nafasnya tertahan saat ia maju bersama
anaknya didepan aula, menyerahkan putranya ke pihak sekolah. Raut mukanya
tampak lega saat sang anak tersenyum, menandai hari pertama mereka di Sekolah
Rakyat.